Teknik Dasar Belajar Kaligrafi

Friday, May 18, 2012

Teknik Dasar Belajar Kaligrafi

A. Hal Yang Disiapkan Sebelum Menulis
Langkah-langkah yang harus dipersiapkan diantaranya yaitu:

1. Ilmu Penunjang
Beberapa hal yang mempengaruhi gaya pemikiran dan bentuk kreativitas terkait dengan kaligrafi Arab antara lain kajian seputar al-Qur’an dan bahasa Arab serta cabang-cabang yang terkait dengannya. 

2. Bakat
Banyak orang yang menganggap bahwa bakat merupakan satu-satunya jalan mulus untuk memperoleh sesuatu. Dalam kaligrafi, bakat hanya mempunyai peranan kecil dalam mempercepat belajar dan mendapatkan hasil. Sesungguhnya yang menentukan cepat atau lambannya belajar kaligrafi adalah latian yang kontinyu disertai kesabaran dan ketekunan. 

3. Guru atau Buku Panduan
Guru yang memandu jalannya proses belajar hana mampu berperan dalam memberi motivasi, memberi teori dalam latihan, dan lainnya yang berhubungan dengan pengajaran atau latihan. Jadi pemandu yang profesional akan lebih bisa membantu dalam belajar dan mempercepat hasil yang baik.

4. Peralatan Tulis
Peralatan yang harus dipersiapkan sebelum memulai penulisan kaligrafi terdiri dari dua jenis, yaitu perakatan pokok dan peralatan pendukung. Peralatan pokok ada empat sebagaimana seorang penyair Arab melukiskan putaran perempat dalam senandungnya :
Seperempat tulisan ada pada hitam tintanya , Seperempat: indahnya kreasi sang penulis, Seperempat ada pada kalam/pena:Engkau serasikan potongannya. Dan pada kertas-kertas pada faktor keempat. 

Jadi ada empat faktor sekaligus penentu kualitas suatu karya yaitu:
Pertama tinta yang jelas atau sejenisnya termasuk cat. 
Kedua kelihaian sang penulis yang dalam hal ini tangannya mahir menggerakkan pena. 
Ketiga adalah kalam atau pena yang terpotong rapi atau sejenisnya seperti kuas, bambu.  
Keempat adalah kertas yang bagus atau sejenisnya seprti kain kanvas, tripleks, tembok dll.

Kertas yang merembes sangat menyulitkan goresan. Tingkat kemiringan pelatuk pulpen juga harus disesuaikan, karena setiap gaya khat idealnya ditulis oleh pulpen dengan tingkat kemiringan pelatuk yang berbeda-beda. Posisi umum pelatuk ketika berada dipermukaan kertas berkisar antara 60° s/d 90°. Adapun rinciannya : Khat Naskhi berkisar 75° s/d 85°, Khat Tsuluts berkisar antara 75°s/d 90°, Khat Riq’ah berkisar antara 60° s/d 65°, Khat Diwani berkisar antara 85° s/d 90°, Khat Diwani Jali berkisar antara 80° s/d 90°, dan Khat Farisi berkisar antara 75° s/d 85°. Khat Kufi tidak memakai sistem ini. Tidak hanya kertas dan pena, tinta juga harus dipilih yang bermutu, namun semuanya tetap berpulang kepada kecerdikan dan kepiawaian sang khattat. 

5. Kondisi Psikologis
Kondisi psikologis juga mempengaruhi dalam proses belajar guna memperoleh hasil. Namun kondisi ini lebih banyak diketahui oleh penulis sendiri. 

B. Mengolah Kalam/Pena
Pulpen atau dalam bahasa Arabnya Qalam merupakan suatu karakter tersendiri bagi penggunanya. Ada yang menyukai pulpen mahal, karena menyangkut gaya atau gengsi. Pulpen mewah bermerk Waterman misalnya, sempat mengisi saku orang-orang ternama dunia seperti Ratu Mary dari Kerajaan Belgia, Ratu Rumania, Kaisar Cina dan Presiden AS Bell Clinton. Ada juga pulpen mewah lain seperti Montblanc Sailor atau Montegrappa model Solitaire Royal bertatahkan berlian dan emas yang harganya puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah melalui pesanan khusus. Pulpen apapun yang penting pelatuk atau mata penanya bagus dan potongannya rapi tetap bisa menghasilkan tulisan yang bagus, tidak mesti yang mewah seperti pulpen tersebut diatas. 
Mata pena pulpen cair idelalnya digunakan untuk tulisan selebar 2-3 mm. Untuk ukuran lebih lebar, dapat digunakan kalam lain seperti tangkai bambu, ranting kayu, roan, handam, batang emas, batang enau atau aren. Sedangkan kapur tulis atau dobel pensil dapat digunakan untuk mendesain tulisan yang lebih lebar lagi dari ukuran kalam-kalam tersebut. Pada dasarnya kalam dapat dibuat dari apa saja yang memngkinkan. Asal banyak akal, benda sederhana seperti kayu dapur atau ranting di tempat sampah dapat dijadikan kalam. Spidol besar atau kecil yang mata penanya dipotong miring dan ditipiskan jga dapat dijadikan bahan kalam khat.

Setelah menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, kalam dapat diolah dengan tahap-tahap sebagai berikut :
a. Ambillah sepotong ranting bambu atau sejenisnya yang lurus, kira-kira 20 cm sebesar jari telunjuk dan kelingking. Bisa juga spidol atau pena yang mata penanya belum dipotong. 
b. Ratakan ujung bambu atau spidol tersebut agar rapi. Kemudian rautlah perut kalam dari bagian salah satu sisi untuk sejenis bambu dan rautlah dari bagian samping kanan dan kiri untuk sejenis spidol dengan pisau tajam atau cutter
c. Potonglah ujung mata penanya dalam bentuk moncong ke kanan atau miring dengan kemiringan ± 45° atau menurut kebutuhan.
d. Agar tinta lebih banyak tersimpan dan supaya aliran tintanya lancar serta teratur, belahlah gigi kalam, persis seperti ujung kalam yang biasa digunakan. Dan dibuatkan lubang kecil pada muara aliran tinta tersebut di tengahnya persis.seperti mata pena pulpen cair.
e. Agar rapi dan halus, gosoklah ujung mata pena dengan amplas. Hendaknya diperhatikan, bahwa pada dasarnya potongan ujung kalam tidak harus tajam tipis seperti pisau, tetapi dibikin agak tumpul dan rata menurut ukuran yang dianggap layak. Mata pena metal atau pulpen cair dapat dipotong miring langsung kemudian mata penanya dihaluskan dengan amplas besi atau digosok diatas tegel, keramik, atau kaca. Saat penghalusan, perut kalam harus berisi tinta untuk menguji coba tingkat kehalusan goresan
f. Setelah proses tersebut selesai, barulah kalam siap untuk digunakan.
Sedangkan peralatan pendukung dalam menulis kaligrafi untuk menambah kemudahan dan kelancaran adalah seperti pensil, penghapus, penggaris, tip-ex, cutter, kertas tissu dan kondisi ruangan yang baik. 

C. Teknik Dasar Penulisan Kaligrafi
Setelah langkah awal sudah dipersiapkan dengan maksimal, seseorang yang ingin berlatih menulis kaligrafi harus mengetahui terlebih dahulu teknik dasar atau kiat-kiatnya. Walaupun kelihatannya berlatih kaligrafi adalah kegiatan plagiat atau meniru tulisan yang sudah ada sebelumnya, namun dengan tanpa mengetahui teknik dasarnya maka kenerhasilan akan sulit diperoleh atau kemungkinan suksesnya 20 %. Sedangkan dengan mengetahui teknik akan membuat kemungkinan sukses 80 %. Teknik dasar yang dimaksud disini adalah cara memegang pena. Memegang pena adalah syarat utama dalam mencapai kesuksesan menulis kaligrafi. Yang dimaksud memegang pena adalah meletakkan posisi mata pena diatas kertas. Hampir 100 % kegagalan dalam berlatih kaligrafi disebabkan kesalahan dalam meletakkan posisi mata pena diatas kertas dengan kemiringan yang hampir berbeda-beda dari tiap jenis khat. Tingkat kemiringan mata pena telah disinggung diatas.
Adapun kiat pendukung yang harus dilakukan untuk menunjang teknik dasar adalah :
i. Konsisten, artinya dalam memegang pena, posisi mata pena harus sesuai dengan jenisnya dan posisi tersebut harus tetap konsisten (tidak berubah) kecuali pada kondisi atau pada huruf-huruf tertentu.
ii. Kontinue, artinya kegiatan tulis-menulis ini harus dilakukan terus-menerus secara rutin agar tangannya tidak kaku. Hal ini harus dijaga terus, apalagi pada masa-masa awal yang masih labil, sebab hampir 50 % kegagalan seseorang meraih kesuksesan dalam berlatih kaligrafi dikarenakan inkontinue.
iii. Evaluasi, hal ini bisa dilakukan dengan menyetorkan hasil tulisan kepada guru atau teman yang dipandang mampu mengoreksi.
Selain itu masih ada beberapa kiat yang terkait dengan kemahiran tangan dalam menggerakkan pena pada goresan yang benar dan hal ini dikenal dengan teknik pelemasan, yaitu :
1. Membuat garis lurus dengan menggunakan pulpen atau pensil yang arahnya dari atas ke bawah dan sebaliknya serta dari kanan ke kiri atau sebaliknya.
2. Membuat garis melengkung atau lingkaran dengan menggunakan pulpen yang arahnya sama dengan poin nomor 1.
Menulis dengan pensil atau pulpen bentuk-bentuk hurufnya selanjutnya ditebalkan dengan spidol yang telah dipotong miring.

Related Posts Widget For Blogger with ThumbnailsBlogger Widgets

Tausih Qiraat Versi Ust. Muammar ZA


TAUSIH BAYYATI

Bayyati Ashli

 نُوْرٌ النَّبِيِّ عَلَى الْعَوَالِمِ أَسْفَارًا

    فَأَبَانَ أَسْبَابًا رَّشَادِ وَأَظْهاَرَ

Bayyati Syuri

 وَشَرِيْعَةُ الْإِسْلَامِ رَاقَ رُوَاعُهَا وَالْكُفْرُ أَصْبَحَ جَيْشُهُ مُتَقَهْقِرًا

Bayyati Husaini

لَمَّا أَتَى لَمَّا أَتَى خَيْرُ الْأَنَامِ بِدِيْنِهِ وَانْحَلَّ مَا عَقَدَ الْغُوَاةَ مِنَ الْعُرَى 

 هاَمُوْا جَمِيْعًا بِّالنَّبِيِّ وَدِيْنِهِ وَالْكُفْرُ بَعْدَ الْعُرْفِ صَارَ مُنَكَّرَ

Bayyati Ashli

وَاسْتَبْشَرُوا وَاسَتَبْشَرُوا بِالْمُصْطَفَى وَبِنُوْرِهِ

   وَالْكُلُّ صَاحَ مُهَلِّلًا وَّمُكَبِّرًا

 

TAUSIH SHABA

أَرَى طَيْرًا عَلَى غُصْنٍ يُنَادِ

أَتَتْ بُشْرَى لِمَجْرُوْحِ الْفُئَادِ

بَدَتْ لَيْلاً فَأَضْحَى شِقُهَا

رُكُوْعًا سُجُوْدًا فِي كُلِّ وَادٍ

TAUSIH HIJAZ

يَا وَرْدَةً وَاسْطَ الرِّيَاضِ مُطِلَّةً

تُجْرِى بِوَجْهِ ذَاتِ خُضْرٍ عَاطِرًا

اَللهُ زَادَ مُحَمَّدًا تَعْظِيْمًا وَهَبَهُ فَضْلاً مِنْ لَدُنْهُ عَمِيْمًا

صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

يَا مَنْ سَمَا السَّبْعَ الطِّبَاقَ مِنَ الْأُولَى

وَدَنَا وَكَلَّمَ رَبَّهُ وَتَشَرَّفَ

أَنْتَ الَّذِى وَطِئَ الْبِشَاطَ بِنَعْلِهِ وَبِخَلْعِهِ

فِى الطُّوْرِ مُوْسَى كُلِّفَ

 

TAUSIH RAS’T

يَا سَيِّدًا, يَا سَيِّدَ الْكَوْنَيْنِ يَا
يَا بَدْرَتَيْمٍ فِى الْوُجُوْدِ عَلَى الْمَدَى
كَوْكَبًا, يَا كَوْكَبًا فَوْقَ الْبُدُوْرِ بِحُسْنِهِ  يَا
 
يَا مُرْسَلًا بِالْحَقِّ دَوْمًا سَرْمَدًى يَا مُرْسَلًا,

 


AMALAN-AMALAN UNTUK MEMERDUKAN SUARA


AMALAN-AMALAN UNTUK MEMERDUKAN SUARA


SELAIN GURAH..ADA AMALAN-AMALAN UNTUK MEMERDUKAN SUARA..UNTUK QORI/QORIAH/PENYANYI/SINDEN,,DLL
1. Amalan suara ini ADALAH:
Tawasul:
- kpd Nabi Muhammad SAW dan keluaranya
- kpd 4 sahabat (Abu Bakar Shidiq, Umar, Usman dan Ali)
- kpd Syekh Abdul Qodir Zailani
- kpd Nabiyulloh Daud A.S
- kpd Nabiyulloh Yusuf A.S Al-fatihah 1x
- kpd Syekh Tubagus Ma’mun banten
- kpd Syekh Tubagus kuncung banten
- kpd K.H Eundeur cisimeut
- kpd Ustadz Dadung banten Al-Fatihah 1x, Al-Ikhlas 3x, Al-Falaq 1x, An-Nas 1x.
- AMALANNYA:
ALLAHUMMA AHSIN SHAUTANAA KAMAA AHSANTA SHAUTAA NABIYYIKA DAUDA ALAIHISSALAM
WA AHSIN SHUROTANAA KAMAA AHSANTA SHUROTAA NABIYYIKA YUUSUUFA ALAIHISSALAM
BIROHMATIKA YAA ARHAMARROHIMIIN
Tatacara:
- Baca tawasul dan amalannya selama 7 malam (stlh shalat hajat),
setiap malam baca sebanyak 100x (lebih bagus sambil puasa sunah dgn
tdk makan2 yg tdk mengandung minyak/lemak), stlh shalat fardlu 7x.
- Stlh selesai 7 hari, bacalah secara istiqomah 7x stlh selesai shalat fardlu.
- Jika akan membaca Al-Quran, tawasul dan baca amalannya 3x/7x.
2.
- AMALANNYA:
ULUK ULUK NABI DAUD SING PURKUTUT BANYU KALI MANGKA MANGKU
MANGRUNGUKUN SOWARA KAULA
REUPANING TEUPAK SIDUNG PANGLAYANKEUN SOWARA KAULA KU ASIHAN NABI DAUD
CAI ROY ROYAN LEUWEUNG CARAANG MUTOLINGKEUN SOWARA KAULA KU ASIHAN NABI DAUD
MANGKA HARUS MANGKA LEPAS ASIH KU KEURSANING ALLAH
LAILLAHAILLALLAH MUHAMMADUROSULULLAH
TATACARANYA:
- Puasa sunah 7 hari (lebih bagus tdk makan yg berminyak/lemak)
- Selama puasa amalan dibaca 41x stlh selesai shalat fardlu
- Stlh selesai puasa, amalan dibaca istiqomah stlh shalat fardlu
sebanyak hitungan ganjil (3x/5x/7x/9x/11x dst.)
- Baca 3x/7x sblm membaca Al-Quran.
3.
Tawasul:
- kpd Nabi Muhammad (Al-Fatihah 1x)
- kpd At-Tabatul Ghulam (Al-Fatihah 1x)
- kpd Hasan Basri (Al-Fatihah 1x)
AMALANNYA:
ILAAHII INKUNTA QOBILTA TAUBATII WAAGHOFARTA HAUBATII FA AKRIMNII
BILFAHMI WALHIFZHI HATTAA AHFAZHO KULLA MAA SAMI’TU MINAL ‘ILMI
WALQUR-AAN
ILAAHII AKRIMNII BIHUSNISH-SHAUTI WANNAGHMATI HATTAA ANNAHU MANSAMI’A
QIROOATII YAZDAADURIQQOTAN FII QOLBIHI WA INKAANA QOOSIYALQOLBI
ILAAHII AKRIMNII BIRRIZQILHALAALI WARZUQNII MINHAITSU LA AHTASIBU
Dibaca 11x stlh shalat fardlu, dan dibaca 3x/7x ketika akan memba Al-Quran.
4.
AMALANNYA:
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
GURU BANYU AURA TIASA
LUR BANYU SABDA HIMEUNGAN
NGAHIMEUNG BARI NGAHULEUNG SAKABEH JALMA
TATAPA MEUNEUNG TATAPI MEUNEUNG KUKEURSANING ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA
HUMEUNEUNG HUMEUNEUNG HUMEUNEUNG LAILAHAILLALLOH MUHAMMADURROSULULLOH
NGARUNGU KANA SUWARA KAULA KALAWAN MUKJIZATNA KANGJEUNG NABI MUHAMMAD
SALALLOHUALAIHI WASALAM
Dibaca secara istiqomah selesai shalat fardlu dan ketika akan membaca
Al-Quran atau Sholawatan sebanyak 3x/7x.
5.
AMALANNYA:
YAA ROHMAANU YAA ROHIIMU YAA MUJIIBASSAAILIIN AHSIN KHULUQII WA AHSIN
ASHWATII YAA ARHAMARROOHIMIINA LAAHAULA WALAAQUWWATA
ILLABILLAHIL’ALIYIL’AZHIIM
TATACARA:
- Puasa sunah 3/41 hari (jangan makan makanan berminyak/lemak) dimulai
pada hari kelahiran anda
- Setiap sahur (stlh selesai makan) dan berbuka puasa mimumlah 1 gelas
besar air gambir (rasanya agak pahit, biasa suka dipake campuran untuk
nyirih oleh orang tua dulu, atau tanya ke tukang jamu-jamu keliling)
yg sudah dinginkan/yg sudah di embunkan (jika ada, jika tdk ada tdk
apa2)
- Malam hari shalat Tahajud 2/4 rakaat, shalat hajat 2/4 rakaat,
shalat taubat 2/4 rakaat
- Tawasul seperti yg biasa anda lakukan + tawasul khusus Nabi Adam A.S
- Baca ROBBISHROHLI SHODRI WAYASIRLI AMRI WAHLUL UKDATAN MILLISANI
YAFQOHU QAULI 3x
- Baca sholawat 3x
- Kemudian baca amalannya 113x
- Selesai shalat fardhu 3x
- Stlh selesai puasa istiqomahlah membacanya 3x/7x sehabis shalat
fardhu dan jika akan membaca Al-Quran tawasulah spt pd wkt puasa dan
baca amalannya sebanyak 3x/5x/7x.
6.
AMALANNYA:
ALLAHUMMA AKRIMNI BIHUSHNISH-SHAUTII HATTAA ANNAA MAN SAMI’A QIROOATI
YAZDAADURIQOTAN FII QOLBIHI WALAUKAANA QOSHYAL QOLBI KA ANNAHUM
YUHIBBU NANII KAMAA YUHIBBUNALLOH BALHUWASY-SYADU TUBALILLAH ZUYYINA
LINNAASI HUBUSSAHAWAATI MINANNISAI WALBANIINA WALMUQONTHOROTI
MINADZ-DZAHABI WALFI-ZHOH
TATACARANYA:
- Puasa sunah 3 hari (jangan makan yg berminyak/lemak), dimulai hari
kelahiran anda.
- Shalat Tahajud 2/4 rakaat
- Tawasul kpd Nabi Daud A.S
- Baca Sholawat 3x
- Baca ROBBISHROHLI SHODRI WAYASIRLI AMRI WAHLUL UKDATAN MILLISANI
YAFQOHU QAULI 3x
- Baca amalannya 313x
- Selesai shalat fardlu baca 3x
- Stlh selesai 3 hari, baca secara istiqomah selesai shalat fardu 3x
dan bila hendak membaca Quran tawasul dan bacalah amalannya sebanyak
3x/7x/11x.
7.
AMALANNYA:
BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
YA ALLOH
YA ROSULULLOH
YA SAIDINA SYEKH MUHIDIN ABDUL QODIR JAILANI WALIYULLOH
WAKIL KISATU PANGERAN PANGAMPUNA CI ANJUR
KAULA NU PANJEUNEUNGAN DATANG
MUGI SUWARA KAULA SAPEURTI SUARA NABIYYULLOH DAUD ALAIHISSALAM
BIBAROKATI WABISYAFA’ATI DIKRU ROHMATI ROBBIKA ABDAHU ZAKARIYYA KAAF
HAA YAA ‘AIIN SHOOD
Dibaca 7x setiap selesai shalat fardlu dan ketika akan membaca
Al-Quran. Maaf amalan khusus yang ini saya tdk bisa mengijazahkan.
Saya sendiri juga bingung krn dpt dari buku, jadi harus pd siapa saya
minta izin agar bisa mengijazahkannya lagi kpd yg lain.. ya, kl ada yg
mau mengamalkannya silahkan amalkan saja atau kl ada sesepuh/sedulurku
yg memiliki amalan ini mohon untuk membabarkannya agar dulur2 yg lain
bisa mendapatkan ijazah amalannya dgn resmi.

Al-Quran Membawaku Keliling Dunia (Kisah Ust.Muammar ZA)

Al-Quran Membawaku Keliling Dunia (Kisah Ust.Muammar ZA)

http://profile.ak.fbcdn.net/hprofile-ak-snc4/187844_112311248815992_1806926240_n.jpg

oleh Qari Muammar ZA Fans pada 14 November 2010 pukul 6:29 ·
H. Muammar Zainal Asyikin (lahir di Pemalang, 1955) adalah seorang hafiz (penghafal Al-Qur'an) dan qari (pelantun Al-Qur'an) asal Indonesia yang dikenal luas secara internasional. Ia pernah menjuarai MTQ tingkat nasional maupun tingkat internasional pada dasawarsa 1980-an. Rekaman pembacaan (tilawah) Qur'an secara duet yang dilakukannya bersama dengan H. Chumaidi hingga sekarang amat populer dan dianggap sebagai terobosan dalam cara presentasi tilawah.
----------------------------------------------------------
Malam baru saja beranjak, ketika sesosok pria yang masih terlihat muda menaiki panggung dan duduk di kursi yang disediakan. Usai salam dengan suara rendah cenderung serak, pria berperawakan ramping itu mulai membaca ta’awudz dan basmalah. Dengan mata setengah terpejam, perlahan, ia mulai mengalunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan irama bayati, lagu pembuka qiraah yang bernada rendah.

Perlahan tapi pasti suara itu meningkat, terkadang melengking tinggi, melantun panjang. Di depannya, ratusan orang bagaikan tersihir, terkesima mendengarkan lantunan suaranya yang naik-turun mengirama, bagaikan gelombang ombak yang susul-menyusul menghampiri pantai. Tak jarang, setiap kali alunan suaranya berhenti untuk mengambil napas, puluhan kepala, seperti tersadar dari hipnotis, segera menggeleng takjub.

Ia memang “legenda”. Meski Musabaqah Tilawatil Quran secara rutin digelar di berbagi tingkatan, belum ada satu pun yang menyamainya. Hampir semua umat Islam Indonesia, terutama di pedesaan, jika ditanya siapakah qari yang paling dikenal di Indonesia, jawabnya pasti Ustaz H. Muammar Z.A.

Suaranya yang merdu serta keindahan iramanya dalam melantunkan Al-Quran begitu termasyhur. Kelebihan ini pula yang mengantarkannya ke berbagai pelosok bumi. Mulai dari desa-desa di lereng gunung, tepi lembah dan ngarai, sampai ke beberapa kota besar dunia, bahkan mengantarkannya masuk ke dalam Ka’bah. Lantunan suaranya yang khas mengalun, mulai dari bawah tenda-tenda sederhana, lapangan terbuka, sampai istana raja. Ia penah mengaji di istana Raja Hasanah Bolkiah, istana Yang Dipertuan Agong Malaysia, sampai istana raja-raja di Jazirah Arab.

Awal Juli, Alkisah mengunjungi pria kelahiran Pemalang ini di kediamannya di depan Masjid Al-Ittihad, di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Ayah satu putri dan empat putra ini bertutur renyah, diselingi tawa segar.

Naik Tandu “Saya ini anak kampung yang beruntung bisa keliling dunia, bisa mengaji saat jemaah haji wukuf di Padang Arafah dan saat bermalam di Mina. Bahkan, pada tahun 1981, saya diberi kesempatan masuk ke dalam Ka’bah,” tuturnya haru. “Wah, nggak kebayang sebelumnya. Di dalam Ka’bah saya cuma bisa tertunduk, menangis. Saya nggak berani mengangkat wajah dan memandang langit-langit.”

Lebih dari 25 tahun, Muammar melanglang buana, melakukan perjalanan yang menurutnya sangat mengasyikan. Dalam menghadiri undangan mengaji, ia pernah mencoba berbagai kendaraan, dari mulai naik pesawat pribadi, pesawat komersial, limousine, ojek, sampai tandu. Medan pegunungan Jawa Barat, tuturnya, yang paling sering membuatnya ditandu. Sementara pedalaman Kalimantan dirambahnya dengan glotok, ojek perahu mini yang mampu menjangkau sungai-sungai kecil di pedesaan.

Suatu ketika, ceritanya, ia diundang mengaji di beberapa tempat di daerah Garut. Qari yang puluhan kasetnya masih terus dicari orang ini menempuh perjalanan Bandung-Garut-Cikajang-Singajaya dengan kendaraan roda empat. Namun perjalanan berikutnya yang naik-turun gunung harus dilaluinya dengan ojek, dan terakhir jalan kaki menyusuri jalan setapak.

Kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Muammar tidak mampu lagi berjalan. Panitia yang mengawalnya pun berinisiatif untuk menyewa tenaga orang kampung untuk menandunya sampai di lokasi pengajian. Setelah berjalan kaki selama empat jam, ia pun tiba. Dan yang membuat semangatnya bangkit kembali, ternyata, ratusan hadirin masih dengan setia menunggu kehadirannya.

“Sampai di tempat pengajian jam dua belas malam, saya langsung mengaji,” kenang pangasuh Pesantren Ummul Qura, Cipondoh, ini. “Selesai mengaji, jam setengah dua, kami turun. Sampai di kota Garut jam setengah delapan pagi.”

Tidak sekali-dua kali perjalanan seperti itu dilakoninya. Belum lama ini, untuk kesekian kalinya, Muammar menghadiri undangan ke Cianjur bagian selatan, daerah Cikendir, yang juga harus dilalui dengan jalan kaki berjam-jam di jalan setapak berlumpur. Pulangnya, ia kelelahan. Dan akhirnya, lagi-lagi, ditandu.Ia memang tidak pernah memilih-milih tempat atau pengundang. Baginya, selama ada waktu, dan kondisi fisiknya memungkinkan, pasti dengan senang hati ia akan hadir. Dari koceknya ia membayar sekitar 500 ribu kepada para pemandunya.

“Niat saya itu kan berkhidmah,” tutur Muammar dengan rendah hati. “Istana, saya datangi. Pelosok kampung pun, saya kunjungi.”

Ia meyakini, ia bisa terus mengaji. Dan kariernya terus langgeng seperti sekarang ini, antara lain, berkat doa orang-orang yang tinggal di pelosok desa dan pegunungan yang pernah dihadirinya mereka itu. “Mereka itu betul-betul ikhlas, baik, dan jujur,” katanya tulus.

“Bayangkan, untuk menghadiri pengajian saya, mereka sampai harus berjalan puluhan kilometer. Bahkan ada yang membawa bekal dan kompor, serta masak di perjalanan.”

Dalam perjalanan berkhidmah ini pula, Muammar pernah mengalami kecelakaan lalu lintas di daerah Cirebon menjelang tahun 1990-an. Mobilnya hancur dan ia pun terluka parah. Cukup lama ia harus menginap di rumah sakit. Saat itulah Muammar merasakan kedekatan dengan para ulama yang bergiliran menjenguknya. Tak jera, setelah pulih ia pun kembali menjelajahi pelosok tanah air, untuk melantunkan firman-firman Tuhannya.

 Ia dilahirkan di Dusun Pamulihan, Warungpring, Kecamatan Moga, sekitar 40 kilometer selatan ibu kota Kabupaten Pemalang, dari pasangan H. Zainal Asyikin dan Hj. Mu’minatul Afifah, ulama dan tokoh masyarakat di desanya. Muammar adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Namun hanya sembilan yang masih hidup. Belakangan, adiknya, Imron Rosyadi Z.A., juga mengikuti jejaknya menjadi qari nasional setelah menjuara MTQ. Adiknya yang bungsu, Istianah, kini menjadi salah satu anggota DPRD Tingkat I Yogyakarta.

Muammar mengenal qiraah sejak belia. Ia memang berasal dari keluarga qari. Ayah dan kakak-kakaknya dikenal bersuara merdu. Sang ayah adalah pemangku masjid di dusunnya, yang setiap akhir malam melantunkan tarhiman, selawat dan puji-pujian untuk membangunkan orang-orang guna mendirikan salat Subuh.

Waktu kecil, ia, bersama teman-temannya, belajar seni baca Al-Quran dari teman lain yang lebih besar, yang kebetulan menguasai beberapa lagu. Di samping itu Muammar mulai keranjingan terhadap qiraah, belajar secara serius pada kakaknya, Masykuri Z.A. Namun karena kakaknya tinggal di sebuah pesantren yang cukup jauh dari desanya, pelajarannya baru akan bertambah jika Masykuri pulang ke rumah ketika liburan.Namun demikian bakat Muammar mulai kelihatan. Tahun 1962, ia menjuarai MTQ tingkat Kabupaten Pemalang untuk tingkat anak-anak, mewakili SD-nya.

“Waktu itu saya masih memakai celana pendek saat mengaji, he he he,” kenang Muammar.Sekitar awal tahun ‘60-an, suara dan lagunya memang sudah mulai bagus, meski hafalan suratnya masih terbatas. Ia sudah mulai diundang untuk mengaji di acara-acara pengajian atau pengantinan di kampungnya. Dan lucunya, ayat yang dibaca itu-itu saja. Ketika kakaknya pulang dari pesantren, barulah hafalan ayat dan lagunya bertambah.

Selepas SD, Muammar sempat nyantri di Kaliwungu, Kendal, sebelum melanjutkan ke PGA di Yogyakarta. Selesai PGA, ia sempat juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Di Kota Gudeg, ia melanjutkan kiprahnya di bidang seni baca Al-Quran. Muammar mengikuti MTQ tingkat Provinsi DIY yang diadakan oleh Radio Suara Jokja tahun 1967. Ia berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat remaja. Tahun-tahun berikutnya, Muammar ikut lagi dan kembali juara. Tahun itu juga, ia mewakili DIY ikut MTQ tingkat nasional di Senayan tingkat remaja, namun ia belum meraih juara.

Sejak itu, Muammar menjadi langganan tetap kontingen DIY di MTQ Nasional, tahun 1972, 1973, dan seterusnya. Tahun 1979, ia bahkan terpilih menjadi anggota kontingen Indonesia di sebuah haflah, semacam MTQ internasional, yang diselenggarakan di Mekah. Gelar juara nasional pertama kali diraihnya di MTQ Banda Aceh tahun 1981. Kali ini ia mewakili DKI Jakarta. Muammar yang saat itu tengah belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Ciputat, mendapatkan hadiah sebuah televisi. Pemerintah Provinsi DKI sendiri kemudian memberi tambahan bonus hadiah, ibadah haji.

Namun, tidak seperti kariernya di bidang tarik suara, dalam pendidikan Muammar mengakui kurang berhasil. Kuliahnya di PTIQ yang tinggal skripsi tidak selesai. Waktu itu, kata sang qari, ada perubahan peraturan yang agak mendadak. Jika semula syarat ujian skripsi itu hafal lima juz Al-Quran, tiba-tiba diubah menjadi 30 juz. “Wah, saya nggak siap,” ujar Muammar jujur. Meskipun demikian, uniknya, setelah menjadi juara nasional dan qari internasional, ia justru diminta mengajar di sana.

Tidak Berpantang
 Ditanya mengenai rahasia suaranya, suami Syarifah Nadiya ini dengan serius mengatakan tidak mempunyai resep rahasia apa pun. “Dalam hal-hal seperti itu, saya cenderung rasionalis,” ungkap Muammar. “Saya nggak begitu percaya pada hal-hal begituan, seperti nggak boleh makan ini-itu, harus cukup tidur, atau harus tidur jam segini. Bahkan saya jarang tidur lho, apalagi sebelas hari ini saya selalu pulang pagi.”

Ia pun mengakui, meski dulu pernah sekali ikut-ikutan mencoba, tidak berani ikut gurah. “Saya nggak berani ikut,” katanya. “Apalagi yang enggak jelas. Karena, salah-salah malah merusak pita suara. Kalau cuma melegakan, mungkin ya. Tapi kalau dipaksakan begitu lalu saraf tenggorokannya putus, kan malah jadi penyakit, he he he.” Sebenarnya, kata Muammar, kalau memahami tata cara wudu yang benar dan menerapkannya, itu juga sudah menjadi gurah. Misalnya ketika istinsyaq, memasukkan air ke hidung lalu mengeluarkan lagi dengan keras.

Disinggung bagaimana kiatnya menjaga suara, qari yang pernah diundang mengaji di istana Yang Dipertuan Agong Malaysia dan Sultan Hasanah Bolkiah, Brunei, ini mengaku hanya memasrahkan diri kepada Allah. “Niat saya mau ngaji lillaahi ta’ala, ‘Ya Allah, tolong saya’.” Namun yang pasti, setiap bangun tidur ia selalu melakukan warming up, pemanasan, dengan rengeng-rengeng, menggumamkan nada-nada tilawah. Demikian juga ketika akan mengaji. Menurutnya ini penting, untuk menghindari kaget.

Berbeda dengan para penyanyi yang banyak mempunyai pantangan, terutama makanan dan minuman, Muammar menyantap hampir semua makanan dan minuman yang disukainya. Bahkan, makanan kesukaannya adalah sambel, lalap, dan ikan asin, yang harus selalu ada di meja makannya.

“Saya hanya memastikan, ketika saya mau ngaji, kondisi badan saya fit,” ungkapnya, berbagi resep. “Baru kemudian, kunci terpentingnya adalah mengaji dengan ikhlas dan perasaan senang.”

Bagi Muammar, mengaji dengan ikhlas dan senang hati itu menjadi hiburan dan kenikmatan tersendiri. Maka, tak mengherankan, setiap kali melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran, ia tampak begitu menikmati. Terkadang matanya setengah terpejam, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Pokoknya saya dengerin sendiri, karena memang pada dasarnya saya suka.” Itu, menurutnya, membuatnya mampu mengaji minimal setengah jam, jika di dalam kota. “Karena mereka kan sering ketemu saya. Tapi kalau di luar kota, terlebih di luar Jawa, saya bisa satu jam, bahkan lebih.”

Dalam satu hari biasanya ia mengaji di tiga sampai empat tempat. Di beberapa tempat, terkadang ia juga berceramah, biasanya jika mubalignya tidak datang. Mengaji itu pula yang mempertemukannya dengan sang istri tercinta, ketika sang pujaan hati yang dinikahinya pada tahun 1984 itu duduk dalam kepanitiaan sebuah pengajian di Kemanggisan. Buah pernikahan dengan wanita berdarah Aceh itu kini sebagian telah beranjak remaja.Lia Fardizza, putri sulung qari yang pernah berguru kepada Syekh Abdul Kholil Al-Mishri, qari besar Negeri Piramid, kini menginjak semester ketiga di London School, jurusan bahsa Inggris. Sejak TK, Lia memang gandrung dengan bahasa internasional tersebut, terlihat dari hobinya membaca komik-komik berbahasa Inggris. Belakangan ia juga gemar mendendangkan lagu-lagu Barat. Tidak mengherankan, dialek lisannya, menurut Muammar, cenderung ke Amerika.

Putra-putranya, Ahmad Syauqi Al-Banna, kini duduk di kelas 3 SMU, Husnul Adib Al-Hasyim kelas 2 SMP, Raihan Al-Bazzi, kelas 4 SD, dan si bungsu Ammar Yua’yyan Al-Dani, kelas 3 SD. Di antara lima anaknya, tiga di antaranya mewarisi keindahan suara sang ayahanda, Lia, Raihan, dan Ammar. Namun karena keterbatasan waktu serta kesibukan Muammar, diakuinya, potensi putra-putrinya itu belum tergarap.

Menurutnya, qari yang baik itu harus memiliki suara yang bagus, napas panjang, penguasaan lagu, dan dialek yang bagus. Dan, membentuk dialek itu tidak gampang. Orang Jawa, misalnya, akan cukup sulit mengucapkan huruf ba’ dengan benar. Ia sendiri mengaku cukup lama mempelajari dialek Al-Quran dengan memperhatikan dialek qari-qari dari Mesir, Arab, dan daerah Timur Tengah lainnya.

Qari lokal yang bagus, menurut Muammar, biasanya yang berasal dari pesantren Al-Quran yang kebetulan pengasuhnya juga seorang qari mumpuni. Ini karena sang kiai biasanya mempunyai kelengkapan ilmu qiraah dan kepekaan, maka pembelajaran qiraahnya juga dilengkapi dengan ilmu tajwid, makharijul huruf (ilmu pelafalan huruf Al Quran), dzauq (cita rasa bahasa), dan sebagainya.

Dari Pedesaan
Karena itulah, sejak empat tahun Muammar memulai pembangunan sebuah pesantren di daerah Cipondoh, yang dinamakannya Ummul Qura. Karena seorang qari, ia bercita-cita menyebarkan tradisi qiraah ini melalui pesantrennya ini, sebagai sumbangan pada bangsa. “Kalau Allah mengizinkan,” kata Muammar, “saya ingin mencetak Muammar-Muammar baru.” Melalui lembaganya itu pula, ia mengharapkan, seni baca Al-Quran akan kembali dicintai dan dikagumi umat Islam.

Muammar bercita-cita membangun sebuah lembaga pendidikan yang komprehensif, mulai dari TK, SD, SMP, sampai SMA yang mempunyai nilai plus, Al-Quran. Ia mengharapkan bisa membekali santrinya dengan kelengkapan ilmu-ilmu Al-Quran, baik tajwid, qiraah, dasar-dasar tafsir, maupun tahfidz-nya (hafalan Al-Quran). Paling tidak, targetnya setamat SD atau SMP para santri akan mampu membaca Al-Quran dengan fasih, baik, dan benar.

“Terlebih dengan lingkungan yang Islami di pesantren, setidaknya mereka akan mempunyai pegangan hidup.”Pada tahap awal, sudah dibangun sebuah masjid, ruang baca, dan dua buah gedung asrama. Ke depan ia ingin membangun sekolah formal dulu, baru kemudian akan diasramakan. Namun, karena keterbatasan dana, sementara ini pembangunan Pesantren Ummul Qura tersebut tersendat.

“Akhir-akhir ini semangat mendalami seni membaca Al-Quran di masyarakat kita ini memang cenderung mengalami penurunan,” tutur qari yang pernah diminta membaca Al-Quran saat wukuf di Padang Arafah. “Apalagi kecintaan terhadap Al-Quran.”

“Belakangan ini, perhatian orang, terutama generasi mudanya, lebih tercurah ke kontes-kontes musik yang memang lebih memikat,Sementara MTQ, dari dulu kemasannya tidak pernah berubah.” Ia merindukan, MTQ ke depan akan mempunyai gereget dan gaung yang besar, seperti pada masa-masanya dulu.

Lebih lanjut, Muammar juga mengharapkan optimalisasi peran lembaga resmi yang dibentuk untuk mengembangkan seni baca Al-Quran, Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran. Idealnya, lembaga tersebut tidak hanya sibuk menjelang pelaksanaan STQ atau MTQ, atau menjaring bahan jadi, tetapi secara intensif dan konsisten menggali dan membina bibit unggul sejak dari tingkat dusun. “Selama ini, bukankah juara-juara tilawah justru banyak muncul dari pedesaan, yang ekonominya pas-pasan....”

sumber : http://www.encyklopedyjka.eu/wikipedia/w/id/Muammar_ZA

TIPS AGAR SUARA MENJADI BAGUS DAN NAFAS MENJADI PANJANG

Monday, May 7, 2012



TIPS AGAR SUARA MENJADI BAGUS DAN NAFAS MENJADI PANJANG




Suara yang bagus pasti kita semua menginginkannya apalagi bagi seseorang yang hobby membaca Qur’an, berikut ini cara-cara agar anda memiliki suara bagus tersebut:


1.Setelah subuh, masukan ke2 jari telunjuk anda ke dalam tenggorokan dan biarkan lendir_lendir dalam tenggorokan anda keluar. Tapi ingat jgn dulu sikat gigi, karna apabila anda telah sikat gigi terkadang lendir_lendir dalam tenggorokan anda jarang keluar.


2. Teteskan air ke dalam hidung anda, dan nantinya lendir dalam tenggorokan dan juga hidung keluar derngan sendirinya


3.Minumlah air hangat ketika tengah malam, tapi jangan langsung diminum kumurlah terlebih dahulu. kumur dengan menadahkan keatas terus rasakan air itu sampai terasa di tenggorokan dan telan sedikit demi sedikit.


4. Jagalah makanan juga minuman anda. jangan terlalu konsumsi yang bersantan, terlalu banyak minyak, dan terakhir jangan meminum air es.Minumlah air putih hangat sehabis konsumsi yg manis2,dingin dan berminyak.


Suara baguspun tidak cukup menjadi modal keseimbangan pernapasan yg baik dan panjang. Dan ini kira2 caranya yg mudah:


1. Masukan muka anda kedalam air dibak mandi atau kalau lagi renang ,dan teriaklah didalam air lakukanlan beberapa kali. Setelah itu cobalah dengan menyanyikan lagu yang bertempo panjang.Seberapa tahan anda pertama kali !? ya coba saja..,xixix...yg pasti ini memperkuat otot rahang anda....


2. Taruhlah 1 buah lilin dengan jarak 10cm coba anda tiup,FUHHH.... dan terus tambah jaraknya 11,12, dst. Sesering mungkin...hal Ini juga akan membantu nafas anda menjadi panjang disebab membran katup paru2 lentur mengembang untuk mampu menampung volume udara sebanyaknya,mirif cara penggunaan alat respirasi test pola tiup.


3. Rajin-rajinlah lari pagi agar nafas anda juga stamina anda terutama otot diafragma dan dada serta leher rahang atas menjadi lebih kua.Hal ini akan membantu anda menjadi fit and fresh saat berkiprah berolah vokal.


Semoga bermanfaat......

web yg lain . . . http://www.alyusufi.com/